Tampilkan postingan dengan label STOP MAIN ORGEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label STOP MAIN ORGEN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 September 2011

:: Ke Gunung BROMO lagi, memang chaaaantik !

hallooo bapak dan ibu,
Orgen melulu bosen ah, mendingan jalan jalan aja.
Saya ni main lagi ketempat yang dulu, tempat yg pernah saya datangi saat sekolah di Malang, Gunung Bromo, tau kan, wuuu top banget lah sebagai tujuan wisata Jawa Timur.


Jalan Mana?
Gampang dan banyak, mau dari mana? Kota Malang ?, Pasuruan atau Probolinggo? sama saja karena ujungnya nanti akan ketemu di Sukapura.
Nah Kemarin saya masuk dari arah Probolinggo dekat terminal.
Naik terus, ke selatan, dan setengah jan dari situ kita sudah dilimpahi pemandangan yang berbeda dari Probolinggo yang panas. Alam sudah meninggi dan udara sudah semakin bersih dan sejuk, terus saja karena jalannya cuma satu, gak akan nyasar he he  / / dan petunjuk Bromo selalu ada.

Kendaraan apa?
Apa saja yang sehat, mau Kijang, Suzuki Apv, Innova,Panther, Pajero ,Alphard he he sangat baik.
Tanjakannya sih kebanyakan biasa, cuma ada beberapa tanjakan yang tajam dan panjang yang menuntut kehandalan mengemudi lah, biasa.

Nginep atau Pulang hari ?
Dua duanya bisa, pulang hari untuk lihat bromo saja di siang atau sore hari boleh, mau nginap apalagi boleh.
Kalo pulang hari, berarti kita hanya lihat Gunung Bromo siang atau sore hari, kurang dramatis sih, tapi jelas dan sejuk. Kita juga bisa turun ke lapangan pasir bromo saat itu juga (siang)


Nginap dimana?
Hotel ada, rumah sewa ada.
Hotel yang standard yang berlokasi di bibir tebing yang langsung melihat romo ada 2 kalo gak salah, harganya dari sekitar 600rb ke atas lah per kamar.

Nginap di rumah sewa ?, wow banyak sekali. jangan alergi sama orang situ yang menawarkan rumah sewa dan Hardtop (jip Toyota sewa), mereka biasa, tidak memaksa, santay aja . . .tanya tanya dan tawar menawar dengan mereka. Harga standard lah sama kok.
Rumah dengan 3 kamar yang memadai, sekitar 350- 450rb lah, sangat wajar, kita dapat 3 kamar dan ruang tamu dan dekaaat sekali dengan Bromo.

Sewa Hardtop?
Ya aturan baru, bahwa hanya hardtop Koperasi saja yang bisa turun ke dekat kaki Bromo, Ok lah, namanya Industri wisata, semua harus hidup dari sumber devisa daerah ini, kaan?
harganya berbeda tergantung tujuan kita, mulai dari 350 rb sampe 600rb, nah yang terakhir itu adalah ke 3 lokasi, mereka bilang paket, yaitu, kita diantar ke Puncak Pananjakan di waktu subuh, jam 4 pagi, lalu kita ke kaki gunung Bromo dan gn.Batok kemudian ke 'yang mereka sebut' Pasir Berbisik dan terakhir ke padang rumput (Savanna) di Kaki Bromo dari arah Ranu Pane. Hardtopnya sehat sehat.

Makan dimana kalo kita sewa rumah?
Ada beberapa warung makan di dekat bromo, yaaah lumayan lah masakan lokal tapi jangan harap rasanya sama dengan "Depot" atau resto di Probolinggo. Harganya? umum lah, sepiring 9-10rb, kopi kapal api 3rb, wajar lah, contohnya di warung "Puput" di dekat situ. Makanan di Resto Hotel yang saya singgung di depan tadi yaaah lumayan lah dan harganya ya beda dong dengan di warung, lebih mahal pastinya.
Warung buat beli sabun, sampo, Baterei buat kamera dll aba beberapa, dg harga wajar lah.

Schedule Wisata Bromo "Paket"
Ya, sewa rumah sorenya, santai di rumah nonton tv dan jalan jalan sore lihat kampung Ngadisari lihat pemandangan sekitar Bromo sore hari ..  gratis kaaan . . .
Jam 4 subuh si tukang hard top sudah membangunkan kita sesuai jadwal , hardtop sudah siap untuk naik ke Pananjakan. Langsung kita naik bersama dengan hardtop sewa lainnya.

  • Pananjakan, adalah salah satu puncak tertinggi dimana kita bisa melihat Bromo, Batok dan sekitarnya saat matahari terbit, itu lhoo gambar yang biasa kita lihat di promo-promo tentang bromo
  • Pura Bromo, ya, itu di kaki gunung Batok dan Bromo, dari sini pula kita bis anaik 250 tangga ke binbir kawah Bromo itu.
  • Pasir Berbisik, ya, ini parnah dipake syuting film dengan judul  ini, sepiii luasss bagus untuk foto
  • Savana, padang rumput Bomo, wooow ini yang exotis . . coba deeh . .
Dan setelah itu kita dianter ke sumah sewa kita lagi. sangat wajar lah untuk harga wisata.


Oh ya, disana ada sewa Jaket, yang memadai lah, harganya 25 ribu sehari semalem. jadi gak usah bawa jaket tebal kalo males mah.

apalagi ya?, aah silakan coba deh. Kalo mahasiwa sih bisa lebih hemat kayak saya dulu jaman sekolah, hampir gak ada bayar bayar, semua bawa sendiri, gratisss, nggak nginep karena saya dulu datang tengah malem dan istirahat di mobil, lalu malemnya naik Pananjakan dan turun ke Segoro wedhi, segara pasir di kaki bromo langsung dengan Toyota kanvas yang kami bawa dari Malang.

Ok selamat Piknik ya . .

Rabu, 03 November 2010

Saya berharap pada hasil temuan Andre Geim dan Konstantin Novoselov, nanti, Orgen bisa digulung seperti kertas

Orgen dari besi ?
Tahun 1855 Alexander parkes menemukan plastic yang terus berkembang hingga kini dan terbayang sekiranya Parkes tak memulai mungkin saja Keyboard , orgen kita dibuat dari besi atau ,kayu ! gila aja. Untung nya kita, hidup di dunia ini bersama orang orang yang memikirkan perbaikan kehidupan dan peradaban.

Orgen bisa digulung seperti kertas?
Tahun 2010, November, kemarin, tanggal dua, saya denger radio Jerman Deutsche welle pagi pagi pas mau ke kantor, sementara jalanan sekitar Bojong Menteng-Bekasi masih sepi karena masih jam 5.45
Kesadaran saya dikejutkan oleh berita  2  manusia hebat, dan sayangnya  . . dua dua nya kelahiran Russia, bukan Indonesia . .Oooh . . dia lagi dia lagi. .Russia lagi . .
Mereka adalah Andre Geim 52 tahun, dan Konstantin Novoselov 36 tahun mereka peraih Nobel bidang fisika,peneliti dari University of Manchester Inggris yang dengan briliant menemukan material bernama Graphene.
Katanya,
Graphene (grafin) ini berasal dari grafit, semacam yang biasa dipakai di pensil, si carbon itu, dan katanya jika kita menggosok gosokkan pensil ke kertas , disana, dilapisan tulisan itu juga terdapat graphene. Ini bakal jadi benda ajaib dan akan turut merubah peradaban manusia.
Bayangkan saja,  . . 
dengan graphene ini, kita bisa membuat semacam karpet sekitar 1 meter  persegi, setebal 1 atom (what?) yang bisa menahan kucing seberat 4 kg dan berat karpet itu sendiri adalah seberat 'bulu mata kucing itu ! wow ! dan hebatnya lagi kekuatannya sekitar 200 kali baja dan konduktifitas nya 200 kali tembaga !

Jadi . . .??? mungkin . .
Nanti . . .LCD itu bisa digulung kayak kertas . .
Hand phone jadi bisa ditempel seperti stiker di ball point kita atau ditempel di notes atau apa saja . . ..TV jadi seperti selembar plastik yang  maha tipis dan ringan . . . dan . .
Keyboard, Orgen mainan kesukaan kita itu jadi bisa digulung seperti menggulung kertas A4 dan kisa dikantongin, disakuin tapi  kalau jatuh dan tertiup angin maka ia akan terbang he he he.
Sungguh, menurut saya ini berita baik dan harapan bagi manusia, apalagi bagi pemain orgen yang suka mengangkat kesana kemari orgen seberat 12 kg, ada juga yang bahkan di gemblok di punggung dan naik motor ke tempat dimana si player mangung, di hajatan atau gedung lain . . .
Tenang . .  tunggu 30 atau 40 tahun lagi laaah . . .orgen akan jadi mudah dibawa dan sangat ringan . . .

OK. Selalu ada harapan, harapan selalu ada . . . 
semoga semua sehat dan lebih sukses !

Senin, 01 November 2010

Pendekatan antara kelompok hobby bermusik, sampai dimana batasnya? beda polyphonic?

Sekitar 3 tahun lalu saya ada acara di Puncak(Bogor), di suatu vila, di terasnya saya lihat orang berjejer memainkan gitar klasik di sore hari, wah kata saya , ini pasti klub gitar akustik, klub gitar klasik lagi piknik, kalau klub orgen piknik kayak gimana ya? dalam pikir saya, apakah itu orgen berjejer di depan villa? he he he,gak perlu sama sekali ya.

Lantas saya membayangkan bisa nggak piknik bareng antara klub gitar dengan klub orgen? he he he, lalu . .tapi bagaimana pembagiannya?, wong di orgen sudah ada puluhan macam gitar akustik, puluhan gitar electric. Jadi gimana pembatasannya?
Oh tak ada batasnya, misal kata anda, atau waah terbatas misalnya lagi, ya mungkin mungkin saja, tergantung kebiasaan dan kebijakan si pehobby pehobby itu.

Menurut pengalaman saya akhirnya begini,
Jangan bawa itu orgen ke klub bermusik gitar akustik atau semi electric jika memang tak dikhususkan, tak diminta, tak dikasih acara, tak dibagi waktu atau diberi keleluasaan. lho kenapa?
Beda karakter rasanya . . .
Orang orgen, player keyboard tunggal ingin mengeluarkan semua suara atau bunyi orgennya, yang 128 polyphonic itu, sedangkan bisa jadi di grup gitar akustik atau semi electrik sudah akrab dengan 18 atau 20an polyphonic dengan 2 orang pemain gitar sambil bernyanyi ( 6 senar gitar x2= 12, ditambah 2 penyanyi = 14 pholyphonic(??), jadi kemungkinan, orang yang terbiasa mendengar gitar akustik akan sangat 'terganggu' dengan suara orgen ! yeeess . . ., itu suara orgen berisik banget! apalagi pemainnya seperti saya, pengen keras tapi mainnya gak begitu bagus he he he he . . . .jadi . . .?? gimana dong?
Banyak yang tak bisa dibarengkan . . .
banyak yang tak dapat dipaksakan . . .Kayaknya lebih baik sendiri sendiri saja, karena main bareng juga rasanya beda dimensi.

Kecuali . . ., misalnya seperti Franky Patti teman saya itu (adiknya Patti Sisters), dia sudah terbukti di mana mana (di komunitas Orgen-an).Dia bisa main dan menyesuaikan dengan player orgen, dia tau "kapan berhenti" dan "kapan beraksi" dengan gitarnya yang selalu ada di mobilnya.
Yang seperti ini berbeda, mungkin karena dasarnya dari Band, bukan dari akustikan.
Jadi biasanya yang seperti ini bisa cocok dengan tukang orgen, dia akan mengisi Interlude, dia akan ngisi Intro atau dimana saja yang diperlukan suara gitar . . wow, dijamin ! kayak lihat Yopie Item dah he he he . .

Jadi , menurut saya . . .
memang ada ruang nya, ada komunitasnya, tak bisa dipaksa untuk dipadukan, masing masing mempunyai keindahan dan kekhasan yang mungkin hanya dinikmati oleh masing masing peminat.

Sementara saya yang sejak kecil main gitar, kok sudah tua bosen main gitar sehinga jadi pehobby orgen seperti sekarang. Lima gitar jadi pajangan di rumah (pernah sy tulis) dan hampir tak pernah dijamah, karena saya sudah punya istri baru , ya si Yamaha itu . . .
Karena entah bagaimana,
sejak itu main gitar sendiri rasanya sepi . . .
main gitar rasanya kurang expresif . . .
main gitar sendirri jadi tak exploratif . . .
dengan Yamaha . . jadi rame, jadi bisa,jadi bisa direkam ..
jadi menghasilkan uang jajan ( ha ha ha!!) . .
ndak apa apa . . .

Selasa, 22 September 2009

STOP NGORGEN ! - Makan dulu . . .Bakso Solo Kidul Pasar - Blimbing Malang. .ingat si Srongeb dulu . . .

Anda kebablasan di kota Malang?, gak kerasa jalan sudah sampai di Blimbing?, coba mampir dulu di sini. Memang sih gak seperti baso kota Cak Man, bakso solo Kidul Pasar ini lebih sederhana, basonya sudah dicemplungin seperti yang tradisional lah. Si penjual sudah menyiapkan mangkuk dengan bihun, kita tinggal minta saja , kasar berapa halus berapa. Kasar adalah istilah untuk baso urat (memang kelihatannya kasar) , halus adalah istilah untuk bola baso yang halus kita tahu la, tapi itu dia, Baso Solo Kidul Pasar ini gaya tradisional saja, masih menyiapkan lontong kalo kita mau ganjel perut mantep lagi.

Murah, rata rata 1,5 ribu saja per butir, minumannya biasa . . teh panas manis, es jeruk dan itu itu . .
Saya jadi inget dulu 1984 saat kos di Mt Haryono pas depan kampus, tiap sore ada baso Malang yang lewat, dan selalu masuk ke halaman belakang rumah di depan kamar-kamar kos, di pikulannya tertera merek "Srongeb" (maksudnya Brengos) pedagangnya anak muda banget, mikul baso sepanjang Katawang Gede lalu Dinoyo paling jauh ke Betek, ya ini rasanya seperti bakso Kidul pasar ini

Jadi letaknya adalah, kalau dari arah kota, sehabis perapatan bilimbing teruss dikit, sebelah kiri, warungnya putih dengan tulisan orange. Parkir ? oke laa.

Dikit cerita waktu ke Candi Penataran kemarin, saya di Wates, jalan raya Wates masih menemukan Bakso seporsi 3,0 ribu dan enak, es jeruk 2,0 ribu dan enak . . he he he gimana ngitungnya ya?.

Saran saya:
Makan baso tipe begini anda jangan tambahkan apapun ke mangkuk anda, karena kalau anda tambah kecap kental manis saja, bisa jadi kemanisen, kalau tambah saos, bisa agak gak karuan rasanya dan jadi "CEPET WAREG" naaah agar gak cepet wareg, ya jangan tambahkan apapun ke mangkuk anda, cuma . . .
Siapkan lepek/ pisin atau piring kecil mirip tatakan gelas (selalu tersedia), isi dia dengan saos merah, lalu saos cabe dan kecap , jangan dicampur . . . lalu, tusuk baso pake garpu . . dan col . . col . .col . .cocolin ke saos saos tadi . . .gigit dan lllep makan . . lalu kuah nya sruput di sendokin. . . .mantepp . . .
he he he . . . maklum pernah jadi kera Ngalam , Ongis Nade . . dulu . . . taun 83an

)ongis nade( singo edan- > kera Ngalam<>

Holiday /Lebaran Trip : Candi Penataran - Kediri dan Makam Bung Karno, - Blitar

Ini kali kedua bagi saya ke Candi Penataran dan makam Bung karno, dulu tahun 1985 waktu masih bujangan, naik motor ke sini ,sekarang sudahbersama anak istri, cuma yang sekarang jalurnya lain, bukan dari Blitar tapi saya ambil dari Kediri.

Candi Penataran dalam sejarah disebut juga candi Palah, berada di sekitar Nglegok-Penataran.kalau ditarik garis lurus dari Trowulan (Pusat Majapahit) sih dekat, cuma jalannya sekarang kan memutar. Candi ini didirikan sekitar 1194 pada masa raja Sri Sarweqwara Triwikrama Wataranindita Grengga lancana Digwijaya Tunggadewa.

Tingginya sekitar 3 tingkat dengan gerbang yang khas seperti di trowulan, pahatannya banyak bermotif ular dan binatang lain, area situs ini cukup luas, di bagian depan masih ada galian yang tampaknya (lebih) baru digali. Dibagian belakang candi hampir mirip dengan Borobudur, jadi kalau kita duduk menghadap lembahnya, terlihat luas hamparan sawah, ladang dan pepohonan (foto kiri bawah ke2). Jalan (umum) menuju candi sekarang sudah ada gerbangnya dan ditarik retribusi 2000 rupiah (foto pojok kiri atas), kemudian kita masuk ke area parkir dan berjalan sekitar 50 meter ke area Candi. Tidak ada pemandu seperti di Borobudur dan Prambanan yang tersedia dalam berbagai macam bahasa. Kita di pintu depan diminta untuk daftar tamu seperti di makam Bung Karno. Juga tidak ada larangan apapun ketika masuk candi seperti ke Borobudur.

Jalan menuju daerah penataran dari Pare - belok kiri pas di polsek Plosoklaten ( Kediri), kalau dari kota kediri ya lurus saja. Jalanan mulus, kita akan melewati daerah Wates Kediri ( waduh . . jadi inget jaman semono . . . wates . .wates . .sik ono nggak yo arek-e?) kemudian akan melewati area Sabo Dam- (foto kanan bawah 3 dan kiri bawah 3) , orang sana menyebut dengan daerah laharan, dam yang dibuat berlapis untuk menahan lahar dingin dari letusan Gunung Kelud agar tidak liar hingga ke kota Kediri.
Saya tidak menyangka bahwa anak anak saya sepertinya suka lihat candi, mereka berfoto sana sini dan naik turun berkeliling candi.
Saya kira sebagai alternatif rekreasi anak juga cukup baik, karena mungkin bosen keTime Zone lagi ke Bombom car lagi. Candi Penataran jangan anda lewatkan kalau ke Blitar atau ke Kediri, kalau saya sih memang suka yang seperti ini dari dulu maklum . . . orang kota . .he he he

Makam Bung Karno Presiden ke-1 Indonesia dan Proklamator
Waktu muda , waktu kuliah dulu saya naik motor ke sini boncengan sore sore, dari kota Blitar ke arah utara. Sekarang bersama keluarga dari arah Kediri ke selatan. Jika candi Penataran ada di Wilayah Kediri maka makam pak Karno, yang 10 km dari Penataran, berada di wilayah kabupaten Blitar.
Dari sekitar 100 sebelum makam, pemuda setempat sudah menawarkan parkiran di pinggir jalan, sama dengan Borobudur , berkarcis 5000 rupiah. retribusi 2000 rupiah per orang, sama dengan di candi Penataran, Kemudian kita jalan kaki ke arah makam di kiri jalan, dan seperti biasa mengisi buku tamu sambil ditawarkan untuk mengunjungi museum Bung karno di sebelah kanan dari kantor pengelola.Kebanyakan pengunjung langsung ke arah kiri, ke makam ( foto bawah tengah), pedangan bunga untuk tabur bungan juga tersedia, kebetulan hari itu makam sedang dibuka, jadi banyak juga orang berdoa di depan makam beliau, biasanya dilindungi kaca sehingga pengunjung tidak dapat memegang makam.
Pintu keluar makam diatur seperti di Borobudur, jadi pengunjung diarahkan melewati pasar sentra kerajinan dan oleh oleh khas disitu, pertama pasti kaos, t-shirt bergambar proklamator tersebut dan sepertibiasanya , batik dan kerajinan tangan lainnya. Harga ? sangat wajar termasu tidak mahal. anak saya nanya kenapa dimakamkan di sini? he he he . . .

Ohya , foto yang lagi nyanyi adalah lagi karaoke di rumah saudara saya di Jengkol, di tengah malam yang dingin, diantara kopi panas dan kueh-kueh kita nyanyi terusss . . . he he he . .

Surabaya - Kediri via Ngoro - Pare ( 100 km)

Mumpung libur, nyoba route baru ke Kediri. Rute umum adalah Surabaya - Krian - Mojokerto - Jombang -kertosono- Kediri ( sekitar 130 Km), saya coba lewat jalur tikus, katanya yaitu lewat Ngoro kemudian ke Pare-Lalu Plosoklaten dengan tujuan beristirahat di sebuah desa kaki gunung Kelud yang sejuk.
Start dari Surabaya Sore, jam 4 an, ke aarah Krian, terasa sekali lebaran nya , sangat ramai namun lancar, melewati daerah urban bahkan daerah industri, terasa sekali geliat kota dengan banyaknya perumahan baru.
Selepas Mojokerto, di Mojo agung saya belok kiri arah Wonosalam, Sooko dan ngoro. jalan tidak terlalu besar, jalan kecamatan lah, cuma bagus meskipun tak terlalu bagus. Pemandangan sore adalah pemandangan ladang dengan kawanan burung kuntul (blekok) yang berkerumun di ladang lalu terbang, kebanyakan kebun Jagung yang baru dipanen atau tebu. Sampai di Pare yang cukup ramai sudah sekitar jam 7, bagi yang pertama lewat kesitu ya pelan pelanlah, karena rambu agak menjebak dan kurang runut, jadi anada bisa kesasar kalau cuma berbekal rambu petunjuk jalan.
Menginap di Loji di Penataran Djengkol, di kaki Gunung Kelud dan Gunung Klotok, angin lembah betul betul sejuk, temperatur sangat ideal 24 C, air yang berlimpah, anak anak saya jadi betah main air, saya juga he he he mandi sepuasnya sehabis jalan jauh dari Jember-Surabaya dan Djengkol he he he, besok ke Candi Penataran dan ke makam Bung Karno.

Holiday /Lebaran Trip : Bekasi - Jember 1113 Km, lewat jalur utara lalu selatan Jawa (2)

Jogyakarta - Solo-Kartosuro- Sragen-Ngawi-Nganjuk-Jombang-Mojokerto-Pasuruan-Probolinggo- Jember ( +500km)

Jogya ke Ngawi saya jalani siang hari, 17 September 2009, Jalanan sangat mulus, lancar, rambu-rambu sangat jelas, untuk anda yang belum pernah lewat dengan berkendara sendiri, no paroblem, silakan coba , siang atau malam, jalur ini sangat layak dan baik. Saya lewat Mojosongo di Solo, daerah yang pagi itu di grebeg oleh densus, dari dekat terlihat mobil2 stasiun Tv yang meliput di kawasan yang kering itu, sepanjang daerah itu coklat kehijauan karena kemarau, dan hampir tak terlihat ada kampung dari jalan raya, makanya cocok untuk ngumpet he he he . .kaliii . .
Tancap terus ke Ngawi kabupaten perbatasan jawatengah dan Timur, setelah pesantren Gontor putri (?) saya belok kanan ke arah Paron lewat Ngrambe, si teteh yang kerja di rumah saya bilang salah jalan, harusnya lewat Ngawi saja, dia belum tau yang bawa mobil mantan Trainer Lorena he he he . . .
Rasanya jauh, lewat Walikukun, Midodaren terusss naik ke kaki gunung Lawu (30 km) , pantes kata si teteh kalau naik ojek 100 ribu ! , di pertigaan Ngrambe saya belok kiri arah Paron kemudian ke kanan ke Jogorogo lalu Kendal rumahnya pembantu rumah tangga kami. Jalan Ngrambe - Jogorogo turun naik cukup ekstrim tpi jalannya tetap mulus . .

Kesimpulan saya, pembangunan prasarana jalan kayaknya sudah baik dan layak juga merata bahkan hingga ke pelosok seperti itu.
Aneh juga makan kupat tahu ala Ngawi, kok nggak pake bumbu kacang ? cuma kecap doang . . katanya yang pake bumbu kacang namanya kupat pecel . . .laen lagi . . coba kalau ada ketoprak ini lebih cocok dengan lidah kami.

Ngawi - Jember via Gempol ( tidak lewat Surabaya)- 350 km
Start agak sore dari Ngawi, Jalanan mulusss rata, rambu sangat jelas, diperjalanan paling paling ketemu dengan Bis malam solo -Denpasar (Bali) yang memang melintas ke di Gempol juga sekitar jam 8-9 malam lah.
Tidak ada hambatan dari sarana jalan dan rambu lalulintas membuat perjalanan keluarga saya semakin lancar dan menyenangkan, jam 1.30 pagi sampailah saya di rumah tujuan di kota Jember, setelah 1113 Km odometer kami muter terus.

Holiday /Lebaran Trip : Bekasi - Jember 1113 Km, lewat jalur utara lalu selatan Jawa

Jakarta- Cirebon - Tegal-Pekalongan -Weleri ( 374 Km)- 16 Sep 2009
Masuk Toll Jakarta Cikampek masih lancar tak terasa suasana mudik karena memang rata rata kantor libur 18 September. Keluar Gerbang Cikampek ( jam 17.30) langsung macet total, disekitar sini mungkin ratusan polisi siaga, saya lihat pasukan polisi motor trail menyebar seperti akan mengurai macet, butuh sekitar 45 menit untuk sampai dipertigaan Jomin (belokan keluar kota Cikampek) padahal paling cuma 3 km, ternyata lalulintas tidak di belokkan ke kanan tetapi malah di luruskan ke kota Cikampek ? what ?, wadddu . . . saya sudah tidak bisa mengerti rencana pak polisi ini, karena di ujung perempatan kota Cikampek adalah Pasar, pertokoan dan rel Kereta api, benar saja, kami mutuh waktu 1 jam lagi untuk bergemas ria dengan peratutan ini, aneh memang?, eeeh di Cikampek, dipusan stuck nya lalulintas hanya ada bebera polisi yang tampaknya seperti hari hari biasa saja, tidak seperti di pertigan Cikopo keluar toll Cikampek yang siap tempur. sabarrrr . . . . . sabar . . . gak bisa juga, ratusan polisi tak bisa juga mengurai dengan cept kemacetan yang 'langganan' ini, yaa sabar ya pak polisi, tahun depan lebih baik deh . . .terimakasih sudah dijagain, diatur juga tengkyu pak polisi. Ketika antrian bergerak di sekitar jalan Cikopo - Cikampek , muncul para 'joki' penunjuk jalan tikus, persis seperti di Ciawi arah puncak, cuma kalau di sini mereka berteriak' Cirebon ! cirebon ! " heh ? Cirebon ? . . cirebon bapak lu?!, saya jadi kesel juga, kesel sama polisi yang aneh mengatur arah kok jadi ke Cikampek, dan kesel sama efek yang ditimbulkan, karena banyak juga mobil yang menuruti mereka masuk ke gang-gang kecil, jalan tikus menuju simpang Jomin Fly over . . cape dee . . . . .

Selepas Cikampek, lancar abiss, para penumpang yang saya bawa ( he he he) sudah buka puasa sambil kami tetap melaju, bak bis malam saja he he he. memang sengaja saya jalan sekitar jam 7 malam agar tak terlalu banyak bersaing dengan bis malam jurusan Jawa timur, meskipun sekitar jam itu bis malam jurusan jawa tengan bersamaan melaju di jalur pantai utara jawa barat.

Jalan raya pantura (pantai utara) benar benar mulus . . lus dengan marka jalan yang jelas dan sangat recomended untuk dilalui jam berapapun !
" Tips : menyalip di pantura sudah lazim dari kiri, jangan mengharap dari kanan seperti biasanya karena truk truk dan kendaraan yang lebih pelan lainnya akan tetap berada di lajur paling kanan"

Toll Cirebon : Palimanan -Kanci - Pejagan ( Palikanci)
Karena lancarnya perjalanan maka kami sampai di tol Palikanci seperti perjalanan bukan di libur lebaran. Jalan toll baru ( Bakri Toll) yang membelah wilayah Cirebon ke arah Ketanggungan ini belum selesai, tapi karena lebaran, dibuka juga agak darurat, petunjuk arah menunjukkan "ke Purwokerto- Jogya", ternyata betul, di Pejagan, semua mobil diarahkan ke kanan, ke arah ketanggungan ( 3 km dari keluar toll), padahal pantura adanya di sebelah kiri ( harusnya belok kiri), makanya saya langsung putar arah, diantara kebun bawang merah kiri kanan jalan, daripada ke Purwokerto mendingan ke Tegal (tujuan semula).
Sampai di perbatasan kota Tegal setelah 6 jam saya nyetir lelah juga, langsung saja istirahat di sebuah pom bensin besar yang biasa saya singgahi, di sana memang tersedia tempat istirahat dan jangan lupa" tukang pijit" untuk mengendorkan otot yang tegang dan capek. Ngopi, makan dan pijet he he he . . . .
Tancap lagi dengan tujuan simpang Weleri (Kabupaten Kendal) ke arah Temanggung.

Weleri - Parakan - Kedu - Magelang - Jogya ( 130 km)

Ternyata jalan ini tak se'heboh' seperti yang dimuat dalam situs resmi Pemda kabupaten Kendal, dimana disebutkan 'jalur Weleri - Sukorejo- Parakan-Temanggung sebagai " Jalanan naik turun, kiri kanan Jurang, jalan bergelombang, tanah tidak stabil " waduuu??, ternyata biasa aja . . bahkan Bis malam Handoyo dari Jakarta Ngebut di sana . . .
Saya lewat jalan ini sekitar Jam 3 pagi, biasa saja , sangat layak untuk dilalui meskioun malam hari, jalan memang naik turun, jurang? ya biasa laaa, seperti di Mrawan - Banyuwangi Jatim dan banyak daerah di Jawa barat.
Justru yang seharusnya di sebut oleh pemkab Kendal adalah, sepanjang jalur ini hampir tidak ada fasilitas bengkel atau tambal ban, tidak ada restoran 24 Jam ( malam hari) karena bukan daerah Wisata kayaknya , cuma lewatan ke arah Temanggung dari Weleri. Kesimpulannya , good, jalan bagus layak sekali, rambu cukup.

Candi Borobudur -Candi Mendut
Jam 6.30 pagi, kami sudah di parkiran Borobudur (Magelang-Jateng)sebelah kanan, mendekat ke toilet laa he he he, toiletnya lumayan bersih cuma kecil, jadi kurang enak kalau buat mandi.
Borobudur sendiri sudah bukan sejak jam 6 pagi, banyak bule yg sudah masuk. Ticket masuk 22.500,- whorted sekali, camera masuk bayar 10 ribu, tidak boleh bawa makanan kecuali air minum kemasan, semua makanan harus titip di locker dekat loket.
Sehabis loket masuk maka pengunjung akan melewati detector seperti biasa kita masuk sarana umum mall atau kantor. Secara umum lingkungan Borobudur bersih dan terawat, harus dong . . .

Souvenir dan makanan di Borobudur
Murah, itu kesan saya, bagaimana tidak, di kawasan wisata se terkenal itu harga harga masih umum, bahkan bukan harga wisata. Souvenir yang 3000 rupiah bisa jadi 750 rp saja, yang 30 ribu bisa jadi 10 ribu saja akhirnya.
Santay saja, bahkan kalo santay , beli souvenirnya pas pulangnya saja, mungkin jadi dapet seperti harga saya itu. Cuma kalau beli kaos, t-shirt lihat dulu, ukuran dewasa atau anak2, karena harga boleh murah tapi bukan untuk kita tapi untuk anak anak ukurannya. Replika patung ukuran kecil dari batu ditawarkan 25 ribu, sabar saja anda bisa dapet 10 ribu- 12 ribu.

Makanan ?
Murah dan wajar lah, standar, nasi goreng 10 ribu, nasi campur 10 ribu kan biasa . . minuman juga begitu, wajar sekali dan rasanya ok laa . . . ., bule bule juga banyak yang ngopi dan makan di warung warung di sekitar pintu keluar Borobudur.

Candi Mendut?
Ini sih tepat di pinggir jalan raya, kelihatan sambil lewat atau parkir di sebelahnya, jadi kalau dari borobudur mau ke Jogya hampir pasti kita lewat candi Mendut. Cuma jika kita habis keliling borobudur, lihat mendut jadi kecil sekali dan sepi.

Candi Plaosan,Kalasan dan Prambanan?
Terus saja dari Jogya ke arah solo, kita akan lewati kawasan candi-candi itu di kiri kanan jalan,rambu rambu petunjuk jelas untuk kita bisa singgah melihat, yang terbesar setelah borobudur ya Prambanan, adanya di kiri jalan, karena tinggi dari jalan kelihatan juga puncaknya yang masih ditopang oleh skyfold sehabis gempa Jogya dulu itu,

Kesimpulannya ?, Jalan dari Bekasi ke Borobudur baguusss, mulusss rata, harga harga wajar menyenangkan untuk perjalanan santai sekeluarga
Oleh-oleh
Muntilan : Tape ketan Muntilan
Magelang : Wajit Week

Jumat, 26 Juni 2009

STOP NGORGEN ! - Makan dulu . . .



Minggir dulu juga boleh. Di Bandung, nongkrong pas depan SMPN 14 sekolahan saya dulu, sambil nunggu yang lain datang, ada gudeg yang lumayan, Gudeg, telor, krecek only sekitar 10k . karena penuh di belakang gerobak, maka kita santai saja di luarnya. Kalo bingung minggir aja . . .Jalan Supratman dekat PPI( pusat pendidikan Infantri).

STOP NGORGEN ! - Makan dulu . . .



Cape dong main orgen terus, nyanyi terus, makannya kapan ?Ini dia, bebek goreng dari Pekayon Bekasi Barat, menurut saya Ok, bebek goreng paha atau dada seharga 15k wajarlah, dan yang agak istimewa adalah minuman es kunyit asam (5k). Di Pondok hijau bekasi ada juga cuma yang itu dimasak manis, di ungkeb seperti ayam kalasan, kalo yang di pekayon adalah goreng kering.Letaknya adalah Tol Bekasi barat belok kanan, lampu merah pekayon belok kanan terus arah Kemang Pratama,adanya sebelah kiri,pas di depan snappy dan apotek k24.